Bayangan Dibalik Senja

Ada fase di mana sakit, perih, dan sedih harus diderita dalam satu helaan napas yang sama
Layaknya langit sore yang dipaksa merelakan kepergian senja demi menyambut malam yang sunyi
Tak ada yang perlu disesali sebab selalu ada alasan di balik setiap prosesnya
Entah untuk menjemput bahagia yang baru atau sekadar menjadi guru bagi pendewasaan diri

Aku selalu berusaha menghargai setiap hal yang singgah
Mencoba untuk tidak membenci keputusan yang telah diambil
Meski itu berarti harus memaksakan diri hingga terbiasa

Namun ternyata ada yang jauh lebih sulit daripada sekadar menghargai yaitu membunuh ekspektasi
Berusaha membiarkan semesta berjalan apa adanya tanpa tuntutan hati

Aku pernah menaruh harap pada sesuatu yang menurutku sangat wajar
Namun nyatanya harap itu berbalik menjadi trauma yang menghujam dalam
Ketakutan itu kini selalu mengekor di belakang
Menjadi bayangan yang setia menemani kemana pun langkah kaki pergi

Dan situasi itu perlahan melucuti seluruh energiku mengubahku menjadi pribadi yang asing
Aku tumbuh menjadi sosok yang keras, dingin, bahkan tanpa empati
Sebuah benteng yang kupasang meski jauh di dasar hati segalanya masih sangat bertolak belakang

Kini kembali menjadi sosok yang ceria terasa begitu melelahkan
Aku tak lagi punya kekuatan untuk berpura-pura tangguh di depan dunia
Aku lebih memilih untuk menepi, memeluk kesunyian, dan berjalan sendirian

Ternyata menyembuhkan diri dari hantu trauma jauh lebih sulit daripada sekadar bersembunyi
Aku hanya ingin diam tanpa harus dipaksa kembali menjadi ‘siapa pun’ bagi siapa pun

Leave a Reply