Datang Tanpa Pamit

Pagi sempat memberiku bahagia sederhana
Bukan euforia, hanya rasa cukup
yang membuat dunia terasa lebih ramah
Lalu sore datang membawa senja yang tak sepenuhnya hangat

Ada rasa takut yang singgah diam-diam, bukan tentang kehilangan, melainkan kegelisahan tanpa nama
Ia tumbuh perlahan, berdampingan dengan sedih
yang tak tahu harus berpulang ke mana

Dalam langkah pulang, hatiku terasa berat
Aku berjalan bersama air mata yang kutahan,
mencoba tampak baik-baik saja di antara jalanan yang tetap berjalan seperti biasa
Di tengah perjalanan, rasa itu sempat reda,
seolah senja memberiku jeda untuk mengatur napas

Namun saat sunyi menyambutku, sedih itu kembali tanpa sopan
Ia mengetuk lebih keras, menusuk lebih dalam,
hingga tangis tak lagi bisa kusembunyikan
Malam ini aku belajar, tidak semua senja membawa tenang
Ada yang datang hanya untuk mengingatkan bahwa hati juga bisa lelah
Dan menangis adalah caranya pulang setelah terlalu lama bertahan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *